 | Rindu Surga | Nov 16, 2008 |
Evolusi Gaya Hidup SamsungBisa Nonton TV Sambil BerselancarTEKNOLO GI televisi terus berevolusi seiring gaya hidup masyarakat modern di masa kini. Fenomena komunikasi dua arah dengan o rang lain melalui fasilitas internet pun kini mulai dilirik pabrikan televisi, untuk terus berinovasi dalam menciptakan terobosan baru produk televisi canggih. Kali ini, PT Samsung Electronic Indonesia mencoba menangkap peluang pasar bisnis televisi di Indonesia, dengan memperkenalkan 'Samsung Smart TV'. Produk yang dikemas dalam konsep TV Light Emiting Diode (LED) seri terbaru ini bakal menghadirkan pengalaman hiburan di rumah Anda. Kehadiran televisi ini sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang makin maju, dengan memberi sentuhan elegan, simpel, serta kemewahan di setiap rumah. Manager Director PT Samsung Electronic Indonesia, Yoo-Young Kim mengatakan, Smart TV merupakan salah satu konsep televisi pintar terbaru, dengan tambahan konten yang memungkinkan konsumen tetap bisa berinteraksi dengan berbagai konten, sekaligus berselancar di dunia maya. Smart TV dari Sams ung ini telah dibalut dengan beragam rangkaian fasilitas Smart Hub, yang terdiri dari Search All, Your Video, Web browser, serta Samsung Apps."Melalui Samsung Smart TV ini memungkinkan penikmatnya dapat berkomunikasi secara dua arah dengan orang lain, melalui internet dari televisinya di rumah masing-masing," katanya, dalam peluncuran Samsung Smart TV, Rabu (30/3), di Ballroom Ritz-Carlton Pacific Place Jakarta. Pada era modernisasi saat ini, lanjutnya, masyarakat memang tak dapat lagi dipisahkan dari piranti internet. Dalam hal ini, segala peralatan elektronik kini sudah saatnya dikemas dengan balutan teknologi yang terkoneksi dengan internet. "Layanan Smart TV mampu menghadirkan tayangan yang sa ma, seperti halnya ketika menonton televisi melalui channel yang ada, sekaligus dapat berkoneksi dengan internet, main game, video streaming, jaringan sosial, belanja, galeri foto, kesehatan, serta aplikasi untuk fitnes, tanpa harus menambah banyak kabel penghubung," jelasnya.  Head of Marketing CTV dan AV Samsung Indonesia, Dicky Derajat menambahkan, peluncuran televisi Smart yang mampu menyajikan tampilan siaran televisi sambil berinternet ini terdiri dari tiga rangkaian seri, masing-masing dari tipe LED 8000, LED 7000 dan LED 6000, dengan ukuran mulai 40 inchi hingga 60 inchi. Soal harga, produk terbaru ini bakal ditawarkan mulai Rp 16 juta hingga Rp 70 jutaan. "Meski saat ini masih dihargai sangat mahal, kami optimis penjualan Smart TV ini akan menjadi leader dibandingkan jenis TV lain dalam beberapa tahun ke depan. Apalagi, masyarakat Indonesia termasuk konsumen yang bisa menyerap teknologi baru dengan cepat," imbuhnya. Menurut Dicky, sebagai brand produk televisi nomor 1 di seluruh dunia, Samsung optimistis tahun 2011 merupakan tahun dimulainya TV berkoneksi. Hampir semua TV dengan ukuran 40 inchi dan lebih akan menawarkan fitur Smart TV, yang mempermudah pengguna untuk melakukan keinginan mereka mengakses konten yang mengunakan Web pada layar digital mereka yang besar. "Dengan munculnya Samsung Smart TV ini, maka kami mentargetkan di tahun 2011 ini penjualan televisi LED Samsung di Indonesia bisa menembus angka 800.000 unit, atau meningkat tajam dari tahun 2010 yang hanya terealisasi 300.000 unit," pungkasnya. (alien) Rasio Kepatuhan Penyerahan SPT PPh 49%
Di Kanwil DJP Jateng I
SEMARANG- Rasio kepatuhan penyampaian surat pemberitahuan (SPT) PPh tahunan 2011 di wilayah Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Tengah I mencapai 49,54% dari jumlah wajib pajak (WP) yang terdaftar selama 2010. Namun demikian, jumlah tersebut dipastikan masih akan bertambah, mengingat belum semua laporan dari posko-posko penyerahan SPT terdata masuk. Kepala Kanwil DJP Jateng I, Sakli Anggoro mengatakan, dari data yang ada, WP yang telah menyerahkan SPT PPh tahunan hingga akhir Maret lalu mencapai 422.185. Jumlah tersebut berasal dari WP orang pribadi sebanyak 411.908 dan WP badan 10.277."Saat ini sendiri, jumlah WP yang efektif terdaftar di wilayah Kanwil DJP Jateng I yang membawahi 17 Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di Jawa Tengah bagian utara mencapai 852.271," katanya, kemarin.Menurut Sakli, angka kepatuhan penyerahan pajak ini cukup bagus ketimbang tahun lalu. Meski belum semua SPT yang diserahkan terdata masuk, namun dengan jumlah SPT tersebut menunjukkan peningkatan sekitar 30%."Pada periode yang sama tahun lalu, jumlah SPT PPh tahunan yang terdata masuk hanya sekitar 332.372 WP, dan kini meningkat 89.813 WP menjadi 422.185 WP," katanya.Ditambahkan, batas akhir laporan penyerahan SPT Tahunan PPH pada 2011 telah berakhir pada 31 Maret lalu. Sedangkan untuk WP badan, masih diberi tenggang waktu hingga 30 April mendatang."Dengan masih adanya waktu penyerahan SPT bagi WP badan ini, maka angka kepatuhan pajak ini dipastikan masih akan meningkat, dan kami optimis jumlahnya dapat sesuai dengan target," ungkapnya.Sementara, meski batas waktu penyerahan SPT tahunan PPh bagi WP orang pribadi telah berakhir, para WP tetap dapat menyerahkan SPT pada posko-posko terdekat. Namun demikian, akan diberi denda senilai Rp100.000 atas keterlambatannya. Begitu pula bagi WP badan, jika nantinya hingga batas akhir penyerahan belum menyerahkan SPT akan terkena denda keterlambatan Rp1.000.0000."Jadi bagi yang belum memasukkan SPT tahunan PPh, segeralah masukkan ke posko-posko terdekat, supaya tidak kena denda. Penyerahan bisa dilakukan di tempat pelayanan terpadu, kantor pos, drop box, maupun online," tandasnya. (alien) Indosat Luncurkan IM3 Semau-mu
Gratis SMS, Facebook dan Twitter
SEMARANG- PT Indosat Tbk kembali memberikan terobosan baru bagi para pengguna ponsel yang menginginkan tarif hemat. Kali ini, membidik segmen anak muda, Indosat meluncurkan program 'IM3 Semau-mu' dengan menghadirkan kartu perdana baru. Head of Indosat Area Central Java-DIY, Wasis Sulaiman menuturkan, program ini memberikan tarif paket sms dan internet (facebook maupun twitter) dengan harga hemat. Konsep program IM3 Semau-mu ini mengadopsi dengan gaya hidup dan jiwa muda masa kini yang selalu up date dan kreatif."Program ini utamanya untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat akan layanan operator seluler yang hemat, seiring tingginya kebutuhan SMS-an dan data (social network), terutama facebookan dan twitteran," jelasnya, kemarin.Ditambahkan, kehadiran program IM3 Semau-mu ini tidak lepas dari pertimbangan dalam melihat trend pasar ke depan. Selain itu juga untuk mengakomodir peluang pasar yang dirasakan masih sangat luas di kalangan anak muda, sebagai segmen yang paling sering melakukan komunikasi untuk up date dengan komunitasnya."Kini anak muda tak lagi hanya membutuhkan kartu prabayar yang dapat memberikan layanan percakapan telepon dan SMS dengan paket yang menarik, namun juga yang dapat memberikan nilai tambah, seiring dengan mulai berkembangnya dunia internet di kalangan anak muda," ungkapnya.Sales Area Manager Sem arang, Christoforus Dewabrata menambahkan, promo terbaru ini dapat dinikmati oleh pelanggan dengan kartu perdana baru yang berlaku mulai tanggak 1 April 2011. Sedangkan untuk pelanggan IM3 dan Mentari lama, dapat mengikuti program 'IM3 Gratis SMS, Facebook dan Twitter' dengan cara melakukan pindah paket yang dilakukan tentatif mulai 6 April 2011."Dengan diluncurkannya kampanye program terbaru Indosat IM3 Semau-mu ini pelanggan semakin dapat menikmati layanan-layanan terbaik yang dimiliki Indosat beserta tarif hemat dan benefit lainnya," ujarnya. Menurut Dewabrata, untuk program gratis SMS-an ke semua operator dalam program IM3 Semau-mu ini, pelanggan cukup kirim 2 SMS terlebih dahulu untuk gratis 500 SMS antara pukul 00.00-17.00. Sedangkan untuk gratis 250 SMS dapat dilakukan setelah kirim 4 SMS antara pukul 17.00-00.00."Tarif SMS Rp125/sms, dan gratus SMS berlaku bila pulsa utama pelanggan di atas Rp1.000. Untuk cek sisa gratis SMS melalui *557#," katanya.Untuk gratis facebookan dan twitteran, lanjutnya, dapat berlaku setelah pemakaian data Rp1.000 antara pukul 00.00-17.00. Sedangkan antara pukul 17.00-00.00, gratis akses facebook dan twitter dapat dilakukan setelah pemakaian data Rp2.000. (alien) 
|  | Lawang Sewu |
Padangplus Resto Kedepankan Higienitas
Penyajian Dengan Conveyor
BAGI penggila pedas, masakan Padang tentu menjadi salah satu pilihan dalam kuliner. Bahkan, hampir di setiap kota dapat dengan mudah kita temui rumah makan bercitarasa Padang, yang umumnya menyajikan makanan dengan sistem manatiang piriang (piring disusun-susun di tangan).
Dengan model penyajian tersebut, tentu juga sudah menjadi hal biasa. Sangat jauh berbeda dengan restoran Padang yang satu ini, Yakni Padangplus Resto, yang terletak di Jalan Depok 46 Semarang. Rumah makan ini mungkin saja menjadi satu-satunya rumah makan Padang di Indonesia, bahkan di dunia yang memiliki konsep penyajian makanan dengan conveyor atau ban berjalan.
Manager Operasional Padangplus Resto, Faisal Idris mengatakan, dengan menggunakan conveyor, maka makanan yang disajikan akan lebih higienis, praktis dan cepat. Selain itu, dengan variasi menu makanan lebih dari 65 jenis ini, harga yang ditawarkan pun sangat ekonomis dan pasti mulai dari Rp2.500-an.
"Semua makanan disajikan per satu porsi di atas piring berwarna yang berbeda untuk menunjukkan harga per menunya, sehingga pelanggan dapat menghitung sendiri jumlah harga makanan yang disantapnya dan disesuaikan dengan budget yang ada," jelasnya, disela-sela penerimaan penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) atas konsep penyajian conveyor.
Ditambahkan, keunikan lain yang ditawarkan di Padangplus Resto yakni adanya fasilitas air mineral yang bisa langsung dinikmati melalui kran yang tersedia di masing-masing meja. Sedangkan menu unggulan yang menjadi favorit antara lain bebek ijo Padangplus, ayam batokok, ayam ijo Padangplus, sate ayam Padangplus, serta minuman jus Padang hijau dan es campur Padangplus.
"Menu-menu favorit itu hanya terdapat di Padangplus Resto saja," katanya.
Menurut Idris, Padangplus Resto dengan 3 lantai memiliki kapasitas pengunjung yang relatif banyak. Bahkan, tersedia pula ruang untuk pertemuan di lantai 3 dengan kapasitas 250 kursi.
Sementara itu, dengan keunikan yang ditawarkan Padangplus Resti berhasil membawa rumah makan citarasa Padang ini memperoleh penghargaan dari MURI. MURI mencatatkan Padangplus Resto sebagai restaurant Padang dengan konsep penyajian menggunakan conveyor, dengan kriteria unik urutan ke 4766. Pengharagaan diberikan langsung oleh Senior Manager MURI, Paulus Pangkah, Senin (28/2) lalu. (alien) 
|  | Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru |
Untaian Kaligrafi Payet
Kolaborasi Seni Bernilai Tinggi
BERBEKAL keyakin an, pasangan suami istri Cut Azzeta (37) dan Rukman (43) asal Aceh yang kini menetap di kota Semarang mampu menciptakan karya seni kaligrafi bernilai tinggi, dengan omzet minimal Rp5 juta per bulan. Di atas lembaran kain beludru, warga Jalan Kanguru III/9A Gayamsari ini berhasil mencurahkan karya seninya berupa untaian kaligrafi berbahan dasar payet. Namun, bukan hal mudah bagi Cut menghasilkan karya seni yang kini mulai diminati banyak orang untuk hiasan dinding. Dibutuhkan jalan yang panjang dalam mencapai kesuksesan karya seninya yang kini mulai banyak dilirik pasar."Semua serba kebetulan dan industri kaligrafi payet ini merupakan mukjizat yang menyelamatkan keluarga dari cobaan hidup," ujar Cut. saat ditemui di rumahnya yang sekaligus menjadi galeri usahanya.Cut mengisahkan, usaha yang dirintisnya itu diawali sejak tahun 2009 silam. Kala itu, dia dan keluarganya hidup penuh penderitaan setelah bencana tsunami melandanya di Aceh dan menuntut hijrah ke Kota Semarang. "Saat itu belum ada jaringan, bahkan modal untuk membuat usaha yang bakal bisa dilakoninya," kata ibu yang telah dianugrahi empat orang anak.Namun, mukjizat itu datang saat pasangan suami istri ini sama-sama memimpikan sosok seorang raja dari Arab Saudi yang membawa amalan ayat Al-quran. Dari situlah, lantas muncul ide untuk mencoba membuat kaligrafi di atas kain beludru menggunakan payet agar bisa dipasang dan dihafalkan."Butuh waktu sebulan untuk menjahit payet jenis laser yang memantulkan cahaya itu diatas kain beludru yang kemudian dipasang di ruang tamu," ungkapnya.Lantas, suatu malam seorang tamu datang untuk menanyakan apakah ada rumah di sekitar daerah tersebut yang dikontrakkan. Tapi mata si penanya terlanjur jatuh cinta dengan kaligrafi payet ayat-ayat Al-quran yang berkilauan."Beliau tanya berapa harganya, saya malah bingung karena tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya karena didesak terus saya biarkan kaligrafi itu dibeli dan waktu saya buka amplop pemberiannya terkejut bukan kepalang karena jumlah uang Rp1,8 juta tidak pernah terbayangkan," terangnya. Dari hasil pembayaran itulah, kemudian dijadikan modal bagi Cutmembeli bahan-bahan untuk membuat karya kaligrafi payet lagi. Di bawah label Shegiva Collection, Cut mulai berani memproduksi kaligrafi dalam jumlah banyak dan mencoba memasarkannya.Proses PembuatanUntuk membuat kaligrafi payet, lanjutnya, dibutuhkan alat berupa payet, kain beludru, jarum, dan aneka pernak-pernik lainnya, serta frame untuk membingkainya. Sebelum menguntai payet, terlebih dahulu kain beludru digambar sesuai dengan pola kaligrafi yang akan dibuat."Dibutuhkan keterampilan khusus untuk menguntainya, dan menghasilkan karya yang bernilai," jelas Cut.Seiring pesanan yang terus mengalir, Cut pun kini mulai memberdayakan ibu-ibu warga sekitar rumahnya untuk ikut menjahit kaligrafi payet. Kini setidaknya ada sekitar 15 warga yang menjadi binaannya."Untuk menjaga kualitas, kami tetap harus mengontrol langsung hasil produksi. Bahkan proses finishing dan sentuhan terakhir tetaplah berada di tangan kami," bebernya.Jika sudah terampil, imbuhnya, biasanya hanya butuh waktu empat jam saja untuk menyelesaikan sepasang kaligrafi bertuliskan Allah-Muhammad. Bahkan, jika peralatan yang digunakan sudah modern, waktu yang dibutuhkan akan semakin singkat."Saat ini yang masih menjadi kendala adalah dukungan permodalan untuk membeli peralatan yang modern untuk membuat frame berkualitas, mesin kompresor, komputer untuk menggambar pola, serta angkutan dan transportasi untuk pemasaran," ujarnya.Soal pasar, Cut mengaku saat ini masih cenderung mengandalkan pesanan. Namun demikian, pesanan terus mengalir terutama dari pameran yang awalnya sekelas kelurahan, hingga tingkat kota dan propinsi, serta didisplai di sejumlah venue promosi di Jakarta."Harga yang dipatok mulai di kisaran Rp100 ribu hingga Rp4 juta, bergantung dimensi dan tingkat kesulitan," pungkasnya.Sementara, seiring berjalannya waktu, seni kaligrafi yang diproduksi dari Shegiva Collection tak hanya pada kaligrafi ayat-ayat suci Al-quran saja. Disini, Cut tak ingin hasil produksinya hanya dianggap identik dengan satu agama saja."Sebagai karya yang universal, maka kami pun kini berupaya untuk melayani pesanan kaligrafi dari berbagai agama, baik dalam wujud ayat-ayat Al-quran, doa Bapa Kami dalam bahasa Ibrani, maupun dalam bentuk tulisan mandarin, dan lain-lain," tandasnya. (alien) Sengsara Membawa NikmatDIBALIK segala ujian dan cobaan dari Tuhan pasti ada hikmah yang dapat dipetik. Itu pula yang dialami oleh Cut Azzeta (37) dan suaminya Rukman (43), pasangan suami istri asal bumi serambi Mekah (Aceh) yang kini tinggal di Jalan Kanguru III/9A Gayamsari Semarang.Bencana alam gemp a bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh pada 2004 silam, awalnya membuat hidupnya penuh dengan kesengsaraan. Apa boleh buat, rumah besar yang berada di belakang Masjid Baiturrahman lengkap dengan perabot beserta beberapa pembantu, tiga mobil, ruko serta bisnis yang dibangunnya luluh lantak disapu tsunami.Selama dua tahun paska bencana, Cut beserta suami dan keempat anaknya masih bertahan hidup di Aceh dengan kondisi serba kekurangan. Hidup di tenda pengungsian berbulan-bulan, tak punya uang sepeserpun, dengan baju yang hanya melekat di badan, tentu saja menjadi beban bagi Cut yang juga kehilangan banyak saudaranya.Cut mengisahkan, kehidupannya kini berbalik 360 derajat setelah mereka pun akhirnya kembali merantau ke Semarang di awal tahun 2009, dengan rumah yang pernah ditinggali sebelumnya di Jalan Kanguru III/9A Gayamsari. Ya.., sebelumnya, Cut dan keluarganya memang pernah tinggal di Semarang, saat orangtua Cut berdinas di Kantor Bea Cukai Semarang. "Saat kembali ke Semarang ini, kami hanya berbekal keyakinan saja bahwa Tuhan Maha segalanya," katanya, saat ditemui di rumahnya yang sekaligus menjadi workshopnya.Menurut Cut, sekembalinya di Semarang, mereka sama sekali belum ada jaringan, pun tanpa modal. Bahkan, Cut masih belum tahu usaha seperti apa yang bisa dilakoninya. Mukjizat itu lantas datang, dimana selama tiga hari berturut-turut, suami memimpikan hal yang sama dengannya. Antara percaya dan tidak percaya, dalam mimpi jelas digambarkan ketika Raja Fahd dari Arab Saudi mendatanginya sambil naik mobil limosin dan mengajak pergi ke Arab."Sampai di sebuah dinding lalu beliau meminta pasangkan payet di tembok tapi bagaimana caranya. Kami selalu sholat berjamaah dan ada amalan ayat 7 tapi istri saya tidak terlalu hafal, lalu kenapa tidak kami mencoba membuat kaligrafinya di atas kain beludru menggunakan payet supaya bisa dipasang dan dihafalkan," ujar Cut, didampingi suaminya, Rukman yang masih belum bisa mencerna maksud dari mimpi itu.Dari titik itulah, kebesaran Tuhan seperti terus berpihak pada kehidupan keluarga Cut. Hingga akhirnya, kini Cut dapat meneruskan hidup serba berkecukupan dari hasil usaha Kaligrafi Payet."Alhamdulillah, dari waktu ke waktu industri Kaligrafi Payet ini terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan dengan pasar yang lebih luas lagi, tak hanya di Semarang, bahkan hingga ke luar daerah dan luar negeri," tandasnya. (alien) Merintis Usaha Dari Sepasang KelinciKECINTAANNYA pada binatang, mengantarkan Sunoko sukses menjadi seorang peternak atau pembudidaya kelinci. Hanya berawal dari sepasang kelinci pedaging yang dibelinya 5 tahun silam, warga Jalan Kunir 5 Nomor 125 Perum Korpri Semarang, kini telah berhasil menjual ratusan ekor kelinci. Bahkan, tak hanya kelinci pedaging saja, pria yang akrab dipanggil Koko ini juga telah mulai mengembangkan usahanya pada jenis kelinci hias.Koko bercerita, kala itu tahun 2006 dia membeli sepasang kelinci untuk dipeliharanya. Bahkan, tak ada niatan untuk membudidayakannya hingga m enjadi sebanyak yang pernah dia miliki saat ini. Namun demikian, karena sepasang kelinci itu berbeda jenis kelamin, maka tak lama setelah dipelihara beranak pinak."Dari situlah saya melihat, kalau kelinci memiliki prospek yang cukup bagus jika dipelihara dan dikembangkan lebih baik lagi," ujar pria kelahiran Blora, 34 tahun silam.Setelah kejadian tersebut, Koko yang sebelumnya tak pernah memiliki latar belakang peternak, justru makin berambisi untuk bisa meningkatkan jumlah dan kualitas hewan piaran yang lucu tersebut. Koko bahkan berharap, dapat menjadikan kelincinya sebagai ladang bisnis bagi dirinya."Secara bertahap saya pun membeli kelinci indukan hingga mencapai 50 ekor untuk saya budidayakan sendiri dan saya pasarkan," kata bapak 2 anak, suami dari Indah Prasetyaningsih.Selain kelinci pedaging yang terdiri dari varian Flamish Giant dan New Zealand White atau Super Australia, kini Koko juga mulai mengembangkan kelinci hias yang prospeknya juga cukup lumayan bagus. Khusus kelinci hias, ada beberapa varian yang dikembangkan, antara lain Hollandloop, Dutch (Belanda), Fujiloop (Jepang), dan juga Rex (Bulu Karpet). "Kelinci-kelinci hias saat ini banyak diburu masyarakat, karena bentuk serta warnanya yang lucu dan unik," ujar Koko yang juga sebagai penggagas terbentuknya Kelinci Club Semarang.Soal harga kelinci, Koko mengaku, cukup bervariasi tergantung jenis dan bobotnya. Untuk kelinci indukan pedaging jenis Flamish Giant yang bobotnya antara 8-12 kg bisa dijual dengan harga Rp1 jutaan. Jenis lain, indukan New Zealand White atau Super Australia berat 4-6 kg seharga Rp350 ribu-Rp500 ribu. Khusus kelinci hias, Hollandloop, Dutch (Belanda) dan Fujiloop (Jepang) juga Rex (Bulu Karpet) kini sedang naik daun. Harganya lumayan mahal, bervariasi mulai Rp250 ribu untuk anakan yang usianya baru sekitar 2 bulan. Namun, ada juga beberapa jenis yang harganya di kisaran Rp50 ribuan. Kios dan PemasaranSaking banyaknya kelinci yang telah dibudidaya, maka lahan ternak yang semula berada di pekarangan rumahnya pun menjadi semakin sempit. Untuk itu, sejak 2008 lalu Koko memutuskan untuk mencari lahan khusus sebagai tempat budidayanya di Jalan Basudewo 653 Semarang. "Lahan tersebut sekaligus kini menjadi kios usaha, yang menjual beragam kelinci serta segala keperluannya, mulai dari pakan dan vitamin," ungkap lulusan dari Stikubank Semarang.Dari kios itulah, bisnis kelinci yang dirintisnya mulai berkembang pesat. Bahkan, untuk mengelola kios sekaligus peternakannya itu, Koko yang juga guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMA Institut Indonesia Semarang ini makin kewalahan."Untuk membantu mengurus dan memasarkan kelinci-kelinci yang ada, saya kini dibantu 2 orang karyawan di kios," katanya.Selain melaui kios yang dibuatnya tersebut, pemasaran juga dilakukan melalui keikutsertaannya dalam sejumlah ajang pameran. Biasanya, Koko mengikuti pameran flora dan fauna yang kerapkali digelar oleh pusat-pusat perbelanjaan yang ada di Semarang."Melalui pameran, turut mendongkrak pasar penjualan yang makin berkembang. Tak hanya dari Semarang saja, pesanan kelinci pun saat ini mulai mengalir dari luar kotaan," terangnya.Saat ini, lanjut Koko, penjualan kelinci hasil budidayanya telah sampai di Jakarta, Surabaya, Kudus, Jepara, Kendal, Demak, Rembang dan sejumlah kota lainnya. Pesanan kelinci ini, utamanya diperoleh dari para peternak kelinci dan pecinta binatang. Namun, tak jarang pula pesanan dari para pengusaha sate kelinci untuk jenis kelinci pedaging. "Rata-rata peternak mengambil kelinci dari Semarang, karena dengan cuaca yang relatif panas membuat kelinci yang diternakkan memiliki daya tahan lebih kuat dibandingkan dengan kelinci yang dibudidayakan di daerah berhawa dingin," bebernya. Ia menyebut, jika kita misalnya membeli sepasang kelinci dari Bandungan atau Lembang, dan kemudian dibawa ke daerah yang panas biasanya relatif rentan terhadap perubahan cuaca. Dalam hal ini, biasanya kelinci tidak memiliki daya tahan yang lama, dan akan mati."Hal ini sudah dibuktikan, karena pemesan selalu kembali ke kami dari kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya yang panas, mereka selalu dikirim dari Semarang karena panasnya hampir sama dan daya tahannya juga lebih kuat," tegasnya. (alien)Klinik dan Penitipan Kelinci BANYAK masyarakat yang memelihara kelinci tak tahu bagaimana cara merawat kelincinya dengan baik. Pun, tak tahu langkah apa yang harus dilakukan jika kelinci yang dipeliharanya tiba-tiba sakit.Dari kondisi demikian, Sunoko (34) pun kini berinisiatif mendirikan klinik konsultasi dan perawatan bagi kelinci yang sakit. Klinik tersebut bertempat di kiosnya, Jalan Basudewo 653 Semarang, yang sekaligus menjadi tempat budidaya kelincinya."Selain menerima konsultasi dan pengobatan bagi kelinci yang sakit, kita juga menyediakan fasilitas rawat inap," jelasnya.Menurut Koko, kelinci memang cukup rentan dengan cuaca yang ekstrim, terlalu panas/dingin, hujan, angin, kebersihan kandang dan faktor makanan. Kontinuitas pasokan ini juga bisa dihadang kendala banyaknya kelinci yang sakit lalu mati."Itulah sebabnya saya membuat rawat inap dengan biaya Rp10 ribu/ekor/hari, sudah termasuk pakan, obat dan vitamin," katanya.Bagi pecinta kelinci yang bingung akan perawatan kelincinya saat sibuk beraktifitas dan kerap bepergian ke luar kota, Koko pun memberikan satu lagi solusi. Di sini, Koko menawarkan fasilitas penitipan kelinci."Fasilitas penitipan kelinci kami tawarkan dengan tarif Rp7.500/ekor/hari, juga termasuk makanan serta vitamin," jelasnya.Koko menambahkan, dengan perawatan bagus yang baik, seekor kelinci bisa bertahan tujuh tahun. Sedangkan untuk lokasi pemeliharaan tidak boleh terkena angin secara langsung dan air hujan. "Untuk perawatan yang baik, kotoran kelinci juga harus dibersihkan setiap hari, serta diberi disinfektan dalam tiga hari sekali untuk menjaga kesehatannya," ungkapnya.Sementara soal pangan, sebaiknya jangan diberi kangkung atau glandir, serta sayuran yang telah dimasukkan ke kulkas. Pasalnya, hal tersebut akan membuat kelinci sering terkena diare yang berangsur dapat menyebabkan kematian."Saran saya, beri rumput apa saja, kecuali rumput ilalang dan jangan ada embunnya. Jika terpaksa diberi kangkung atau glandir dan pangan dari kulkas, lebih baik dilayukan terlebih dahulu," pungkasnya. (alien) Memulai Bisnis Konveksi
Berkah Pesanan Seragam Sekolah BERAWAL dari tantangan pesanan seragam se buah s ekolah favorit di Semarang tahun 2004, mendorong Fifi Kamalia untuk me mb u ka usaha konveksi. Di bawah bendera UD K Risqi, usaha yang digawangi perempuan kelahiran 21 April 1970 kini justru terus berkembang. Fifi yang pernah mendalami Perpajakan di Universitas Indonesia ini m emang sudah sejak remaja suka mendesain baju-baju yang dike nakannya, meski dia tidak menjahitnya sendiri. Namun begitu, niat aw al Fifi sebenarnya malah membuka sebuah butik, bukan usaha konveksi seperti yang dilakoninya kini. "Pengennya membuka butik, tetapi sekarang malah jadi konveksi. Mungkin jodohnya disini," terangnya. Perlahan tapi pasti, pesanan konveksi terus mengalir deras memenuhi pesanan. Tidak hanya dari sekolah saja, pesanan juga datang dari sejumlah perusahaan berskala nasional, institusi pemerintahan dan swasta, serta sejumlah lembaga lainnya. "Pesanan baju ini tidak hanya dari Semarang saja, melainkan juga dari sejumlah kota di Pulau Jawa, bahkan hingga ke Sentani Ja yapura," jelas Fifi yang membuka usaha di Jalan Bukit Beringin Lestari Blok A-01 Gondoriyo Ngaliyan. Saking banyaknya pesanan yang terus me ng alir, ibu tiga anak ini terpaksa harus m enambah karyawan untuk membantu kelanca ran bisnisnya. Dari awalnya hanya tiga karyawan, kini Fifi bisa mempekerjakan 15 karya wan. "Prospek bisnis konveksi ternyata mema ng relatif bagus, mengingat baju seragam pasti dibutuhkan oleh para siswa dan hampir setiap tahun pesanan itu selalu datang," terang perempuan asli dari Jakarta ini. Paling tidak, lanjutnya, satu siswa harus mempunyai tiga hingga empat stel seragam, mulai dari merah-putih, pramuka, batik, hingga kaos olahraga. Begitupula dengan perusahaan atau pabrik yang memil iki karyawan ribuan dengan berbagai divisi didalamnya, tentu akan membutuhkan seragam yan g banyak pula. "Pasar yang paling potensial memang untu k pem buatan seragam ini, karena jumlah pesanan biasanya langsung dalam jumlah yang banyak," ungkapnya. Soal bahan baku, untuk mendapatkan kualitas unggulan dan harga yang terjangkau, Fifi pun kerapkali harus berburu kain hingga ke luar kota, seperti Jakarta atau Bandung. Apalagi untuk memburu kuan titas bahan baku bagi para langganan yang memang sudah loyal dan membutuhkan barang dalam jumlah besar . "Jika hanya kisaran puluhan item, saya cu kup mencarinya di Semarang dengan harga yang sedikit di atas kota Bandung atau Jakarta," ujarnya. Fifi mengaku, untuk bahan baku ini terka dang juga mencari sisa stok pabrikan, karena harganya juga jauh lebih murah dan kualitasnya relatif bagus. Meski demikian, bagaimanapun juga Fifi tetap menekankan kualitas kain, dimana hal itulah yang akan membuat pelanggan selalu kembali memesan di tempatnya. "Untuk mendukung pemenuhan pesanan, saya juga menyediakan bordir dan sablon sendiri untuk alasan efisiensi," ujarn ya. Sementara, dalam hal promosi, Fifi mengaku tidak mempunyai tim promosi khusus. Sedangkan selama ini, promosi hanya dari mulut ke mulut dan dianggap sebagai promosi dengan cara yang paling jitu. "Dengan pelanggan yang puas maka mereka tidak akan ragu-ragu mere komendasikan usaha konveksi yang digelutinya," tandasnya. (alien)Pantang Beli Baju KEMAMPUANNYA mendesain pakaian sejak masih muda dulu menjadikan Fifi Kamalia pantang untuk membeli baju di toko. Ibu tiga anak ini lebih memilih membuat sendiri baju yang dikenakannya. "Sejak remaja dulu saya memang tidak pernah membeli baju. Saya akan lebih puas kalau baju yang saya pakai itu buatan saya sendiri, dengan rancangan desain baju yang saya buat juga," kata Fifi, yang pernah mendalami Perpajakan di Universitas Indonesia. Menurut Fifi, dengan desain baju sendiri memungkinkan tidak akan ada orang lain yang menyamai. Selain itu, kita juga bisa memilih sendiri bahan yang akan digunakan untuk membuat baju sesuai dengan selera. "Kalau membuat baju sendiri kan tidak akan ada yang ngembarin. Bagi saya, lebih percaya diri juga dengan baju yang dirancang sendiri," ujarnya. Soal desaian baju, lanjutnya, biasanya Fifi hanya asal menggambar saja sesuai imajinasinya. Kebetulan, istri dari Deddy Mulyadi Ali ini memang memiliki hobi dan kemampuan menggambar baju yang tidak perlu diragukan lagi. "Kalau ketemu teman, kadang ada yang nanyain model-model baju yang saya kenakan itu beli dimana, dan mereka tidak percaya baju-baju yang saya kenakan itu sebenarnya hasil karya sendiri. Begitu tahu, mereka malahan terkadang pengin minta dibuatkan juga," kelakarnya. Kini, kemampuannya mendesain baju pun telah membuat salah satu anaknya lebih memilih baju buatan ibunya ketimbang membeli baju di mall. Begitupun anak lelakinya yang amat gemar mengenakan busana batik. "Saya memang tidak membiasakan anak-anak membeli baju di mall. Bahkan, jika mereka ditawari pun lebih memilih baju buatan saya karena tidak ada yang ngembarin," pungkasnya. (alien) Bisnis Souvenir : Kreasi Unik Dari Kain Flanel
PESTA pernikahan merupakan salah satu momen terindah yang patut dikenang sepanjang masa. Tak heran, segala macam kebutuhan pernikahan akan dipersiapkan sesempurna mungkin. Selain gedung dan dekorasi ruangan, beberapa pernak-pernik pernikahan, semisal souvenir tampaknya sudah menjadi hal penting dalam sebuah resepsi perkawinan.Peluang inilah yang ditangkap oleh Sutriyati (38), warga Jalan Jeruk VIII nomor 12 Semarang. Di tengah kesibukannya sebagai karyawan di sebuah pabrik mebel di Kawasan Industri Candi, Sutriyati meluangkan waktunya untuk menyediakan berbagai pernak pernik pernikahan yang terbuat dari kain flanel.Bermula dari hobi, ibu berputra satu ini mengawali usahanya dengan membuat boneka gantungan kunci, tempat handphone, serta dompet dari kain flanel. Awalnya, Sutriyati ini memang tak menyangka jika aneka pernak pernik dari kain flanel yang dibuatnya untuk kebutuhan pribadi dapat diterima oleh pasar. "Awalnya saya iseng-iseng belajar bikin dompet dari kain flanel, dan saat saya pamerkan ke teman-teman di kantor dan lingkungan rumah ternyata banyak yang tertarik," ujarnya, saat ditemui di rumahnya, yang sekaligus menjadi tempat usahanya.Dimotori dengan tingginya minat masyarakat terhadap produknya tersebut, maka dengan kreatifitasnya dia berupaya untuk membuat model kerajinan lainnya dengan bahan yang sama. Lantas, di bawah label 'Ajie Art', yang diambil dari nama anak lelakinya ini, produk-produk yang dibuatnya turut berupaya meramaikan pasar souvenir di Semarang."Saya melihat potensi pasar untuk penjualan souvenir di Semarang khususnya cukup tinggi, karena dari waktu ke waktu banyak pasangan yang menikah dan membutuhkan souvenir pernikahan," katanya.Memulai usaha dengan modal Rp200.000 yang dipergunakan untuk membeli kain flanel, benang dan aneka pernak-pernik lainnya, kini usahanya telah mampu menghasilkan laba bersih sekitar Rp1 juta per bulan. Sedangkan aneka pernak pernik yang dibuatnya sudah sangat bervariasi hingga lebih dari 20 macam. "Untuk pernak pernik yang dibuat kini ada boneka kain flanel, gantungan kunci, tempelan kulkas, kantong handphone, dompet, bantal berkarakter kartun, pensil boneka, bando hias, frame foto, dan sebagainya," terang istri dari Untung Prayitno.Soal harga jual, lanjutnya, masing-masing produknya dijual mulai harga Rp1.500 hingga Rp4.500 tergantung jenis produknya. Dengan patokan harga tersebut, 30% diantaranya merupakan keuntungan bersih yang diperolehnya."Kalau musim pernikahan, biasanya pesanan cukup ramai, rata-rata minimal bisa mencapai 1.000 pieces dalam sebulan untuk aneka macam produk, dan kalau sepi sekitar 400 pieces per bulan," jelasnya.Sutriyati mengaku, untuk membuat pernak-pernik dari kain flanel ini, dia dibantu oleh suaminya. Selain itu, dia juga memberdayakan sejumlah tetangganya untuk proses menjahit. "Untuk pola dan pemotongan kain flanel saya garap sendiri selepas pulang kantor, dan untuk menjahitnya biasanya kalau pesanan cukup banyak saya minta bantuan teman dan tetangga sekitar," ungkapnya.Saat ini, imbuh Sutriyati, setidaknya ada sekitar 6 orang teman yang kini kerapkali membantu usahanya dalam pembuatan kerajinannya dari kain flanel. Sedangkan untuk ongkos yang diberikan berkisar antara Rp300 hingga Rp1.500 per pieces, tergantung tingkat kerumitan dalam menjahit. Sementara, untuk memasarkan produknya, Sutriyati tidak segan untuk memanfaatkan jasa internet. untuk itu, tidak heran jika pesanan paling banyak datang dari luar kota, seperti Tegal, Cirebon, Fak-Fak, Semarang, dan sebagainya yang memesan melalui online. "Terkadang saya juga menitipkan produk-produk kami dalam pameran atau bazar UMKM yang kerapkali digelar di Semarang," bebernya.Meski begitu, Sutriyati beranggapan proses pemasaran yang dilakukannya belum optimal. Ke depan, dia berniat untuk memasukkan produknya ke toko-toko khusus souvenir serta ke pedagang souvenir di Pasar Johar. "Dengan sistem yang demikian, perlu modal yang cukup besar. Kondisi itu masih menjadi kendala, mengingat kita harus menitipkan barang terlebih dahulu dan akan dibayar jika barang tersebut laku," pungkasnya.(alien)'Harus Melek Internet' MENJALANI bisnis dituntut untuk tidak buta akan teknologi informasi. Dalam hal ini, pelaku bisnis harus 'melek internet', agar produk yang dibuatnya tidak ketinggalan jaman dan dapat berkembang.Sutriyati (38) sebagai pemilik 'Ajie Art', aneka kerajinan tangan dan souvenir dari kain flanel pun telah berupaya menerapkannya. Pemilik usaha di Jalan Jeruk VIII Nomor 12 Semarang ini bahkan tak pernah bisa lepas dari internet untuk mencari ide dalam kreasi produknya."Desain-desain produk yang saya buat, idenya banyak saya ambil dari internet yang kemudian saya kembangkan sendiri untuk variasinya," jelas ibu penghobi menjahit ini.Menurut Sutriyati, usaha kerajinan tangan tak hanya dapat mengandalkan kemampuan pengembangan imajinasi dan ketrampilan pribadi saja. Tapi, melalui internet kita juga dibimbing akan perkembangan tren atau model yang sesuai dengan kebutuhan pasar. "Dengan melihat tren yang sedang 'in', maka bisa dilirik untuk menambah peluang hasil karya dari souvenir flanel agar mampu memiliki nilai jual yang lebih," ungkapnya. Dari kegiatannya berselancar di dunia maya inilah, Sutriyati sudah dapat menghasilkan lebih dari 20 kreasi untuk souvenir pernikahan. Bahkan, kini Sutriyati tengah mulai merambah ke pasar untuk souvenir ulang tahun, dan buah tangan untuk instansi atau perusahaan."Di sini juga melayani permintaan souvenir khusus untuk acara ulang tahun, dengan desain tergantung permintaan," paparnya.Selain itu, kini ibu berputra satu ini pun mulai melakoni pembuatan souvenir dari bahan selain kain flanel. Seperti halnya pembuatan tas souvenir dari kain vooring, serta pembuatan souvenir dari handuk (towel cake). Di lain sisi, imbuh Sutriyati, melalui internet pula dapat untuk membuka pasar penjualan. Tak hanya di lingkungan Semarang saja, melainkan sampai ke seluruh pelosok negeri.(alien)Cara pembuatan : 1. Persiapkanlah bahan dan alat yang digunakan.2. Buatlah pola kreasi yang diinginkan pada kertas karton, gunting lalu pindahkanlah pola tersebut pada kain flanel dengan menggunakan pensil/pulpen gel 3. Untuk memudahkan menjahit, jelujurlah terlebih dahulu atau berilah sedikit lem.4. Gunakanlah benang sulam untuk menjahit kain flanel, warnanya disesuaikan dengan warna kain flanel.5. Ada beberapa jenis teknik tusuk jahit dan tusuk hias, diantaranya tusuk feston, tikam jejak, jeruji dan tusuk pipih. 6. Setelah kreasi selesai, rapikanlah serat-serat flanel pada pinggir jahitan dengan menggunakan gunting.Bahan dan alat yang dibutuhkan :1. Kain flanel aneka warna2. Kertas karton untuk membuat pola3. Gunting4. Jarum5. Benang Sulam/Jahit6. Mesin jahit7. Lem8. Pensil9. Dakron10. Pernak pernik pendukung Dedi Mulyadi Ali :
Menyulap Limbah Kain Jadi 'Keset'
BERKAT tangan-tangan terampil, limbah kain bekas dari industri garmen yang sebelumnya dianggap sudah tidak memiliki nilai ekonomis lagi, ternyata mampu menjadi barang yang mampu menghasilkan rupiah. Limbah kain perca inilah yang kini dapat menghidupi sejumlah rumah tangga sekitar kampung Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan, Semarang, setelah disulap menjadi 'keset'.Adalah H. Dedi Mulyadi Ali, warga Bukit Semarang Baru (BSB) yang memanfaatkan peluang usaha dan memberdayakan masyarakat sekitar. Idenya muncul tatkala dia kerapkali menjumpai limbah kain perca di sejumlah industri garmen yang hanya teronggok tak berguna. Melihat kondisi demikian, bapak 3 putra yang kebetulan bekerja di perusahaan garmen sejak puluhan tahun ini lantas tergerak untuk mencoba mencari peluang dalam memanfaatkan limbah tersebut.Setelah melakukan survei ke sentra-sentra industri yang ada di Jawa Timur, terlintaslah ide untuk menyulap limbah kain perca itu menjadi 'keset' (alas kaki). Setelah melalui berbagai proses uji coba dan pembuatan alat-alat serta mesin pendukung industri yang sederhana, maka pada tahun 2008 dirintisnya home industri berbasis limbah kain perca itu.Sejak berdirinya hingga saat ini, setidaknya ada 6 karyawan tetap yang membantunya merangkai keset. Selain itu, industri ini juga memberdayakan warga di lingkungan sekitar, yang membantu dengan pembuatan uliran kain dengan kain perca."Kami berusaha memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitar, dengan cara menyuplai kain perca ke sejumlah rumah tangga untuk dibuat ulir, dan kemudian menyetorkannya kembali dengan upah Rp300/kilogram," kata pria kelahiran Aceh 48 silam ini.Menurut Dedi, meski program keterlibatannya dengan masyarakat ini baru mulai dirintis, namun keterlibatan masyarakat di sekitarnya sudah cukup tinggi. Setidaknya kini ada 60 rumah tangga yang bersedia melakukan kemitraan ini."Kami berharap program ini bisa menjadi program kemitraan yang setidaknya dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk menambah penghasilan, dan setidaknya kami mentargetkan ada 200 rumah tangga yang nantinya dapat bergabung dan terbentuk sistem klaster industri," harap Dedi saat ditemui di home industrinya.Melalui program kemitraan dengan warga sekitar, kini setidaknya dalam sebulan rata-rata dapat diproduksi lebih dari 2.000 pieces keset beraneka macam variasi. Bahkan, dengan ide dan kreatifitasnya, kini tak hanya keset saja yang diproduksi, tetapi juga kain pel, tali, dan sumbu kompor yang volume produksinya masih tergolong minim.Saat ini setidaknya ada 4 macam variasi keset, yakni keset tenun, bidangan, mutiara dan oval," ujar mantan atlit tinju nasional, yang kini aktif sebagai pembina tinju di Pertina Kota Semarang.Untuk bahan baku, lanjutnya, saat ini pihaknya menampung dari berbagai industri garmen yang ada dengan modal pembelian Rp1.250/kilogram. Selain itu, dibutuhkan pula benang seharga Rp300 per gulungan."Harga jual untuk per piec es dihargai Rp7.500, dan untuk pembelian dalam jumlah kodi dihargai Rp4.500/pices," terangnya.Sedangkan soal pasar penjualan, selain dipasarkan di lokal Semarang, kini produk keset tersebut juga telah menembus pasar luar Jawa, seperti Sumatra. Selain itu, permintaan dalam partai besar juga banyak berdatangan dari Jakarta, Sumatra, dan Kalimantan."Untuk pasar Semarang sendiri kini sekitar 50% dan sisanya 50% untuk memenuhi permintaan dari luar kota," pungkasnya. (alien)Belajar Membaca Peluang BisnisBERBEKAL pengalamannya di dunia usaha, lelaki kelahiran Banda Aceh 13 Maret 1963 silam ini nampaknya tak pernah mau berhenti untuk berinovasi. Ide kreatifnya selalu muncul tatkala dia melihat adanya peluang-peluang bisnis yang cukup menggiurkan. "Saya memang selalu ingin mencoba hal baru sebagai tantangan, khususnya dalam memanfaatkan peluang bisnis yang ada," ujar Dedi Mulyadi Ali.Keinginannya untuk membuka peluang usaha ini juga didukung dengan adanya niat untuk memberikan lapangan kerja bagi masyarakat di sekelilingnya. Maka dibuatlah home industri keset, yang berpusat di Perumnas Bukit Beringin Lestari Kapling 33, Ngaliyan, Semarang."Ide ini sebenarnya muncul pertama kali saat melihat banyaknya kain perca sisa industri garmen yang hanya dijadikan sebagai sampah saja," kata Dedi, yang kini aktif sebagai Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng.Menurutnya, teramat disayangkan jika sampah industri tersebut harus terbuang sia-sia. Sedangkan dalam suatu perjalanan ke Jawa Timur, yakni di daerah Malang, sempat dilihatnya kain perca untuk alas buah yang sebenarnya tidak memiliki nilai ekonomis tinggi. Begitu pula ada yang hanya dijadikan bahan isian pembuatan jok maupun kasur."Dari situlah saya mencoba membaca peluang bisnis dari kain perca agar lebih memiliki nilai ekonomis yang tinggi," terang Dedi, yang telah lama berkecimpung di industri garmen di Semarang.Dari pengamatan itulah, Dedi lantas berpikiran untuk menjadikan kain perca tersebut dalam bentuk keset. Namun, pada awalnya memang tidak mudah untuk membentuk sebuah keset secara praktis. Untuk itu, dia berupaya merekayasa pembuatan mesin khusus untuk mengulir kain-kain perca yang ada dan juga mesin tenun."Mesin yang ada cukup sederhana, dan merupakan hasil rekayasa sendiri untuk mempermudah pekerjaan membuat keset," jelasnya.Saat ini, sejak awal berdiri hingga kini setidaknya ada 4 mesin hasil rekayasa yang telah dimiliki untuk mempropduksi keset. Selain itu, untuk memperbanyak volume produksi, kini pembuatan keset juga melibatkan warga di sekitarnya. (alien) Berkreasi di 'Rumah Plastik'LIMBAH plastik seperti bekas kemasan produk pembersih dan pewangi selama ini menjadi barang tak berguna dan hanya dibuang di tempat sampah. Namun, di tangan seorang pengrajin di Gunungpati, Semarang, limbah plastik tersebut diolah kembali menjadi berbagai produk kerajinan. Dialah Lilik Idawanti (36), pemilik 'Rumah Plastik', sebuah usaha kerajinan dari limbah plastik, di Dukuh Desel RT 02/RW 03, Kelurahan Sadeng, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Pada salah satu sudut ruangan rumahnya, dipajang aneka contoh produk hasil kerajinan kreasinya, mulai dari tas pinggang, keranjang sampah, hand bag, tas sekolah, shopping bag, travel bag, sandal, dan tempat pensil. Harga yang dipatok setiap jenis produk pun bervariasi, mulai dari Rp10.000 hingga Rp85.000, atau tergantung ukuran dan tingkat kesulitan. Bagi wanita berputra dua ini, membuat aneka jenis kerajinan dari limbah plastik bukanlah hal yang sulit. Modal yang dibutuhkan pun tidak terlalu besar. Hanya saja, dibutuhkan kreatifitas dan ketelatenan untuk bisa menyulap sampah plastik menjadi rupiah. "Awalnya saya memang suka mengumpulkan plastik-plastik bekas kemasan pembersih lantai maupun detergen dan minyak goreng," ujar istri dari Imprani Mashadi, saat ditemui di rumahnya.Dari koleksi tersebut, di tahun 2008 terlintaslah ide untuk menyulap limbah plastik menjadi barang yang bernilai rupiah. Untuk masa uji cobanya, Lilik pun mencoba membuat tas untuk dipakai anaknya bersekolah. "Saat anak saya memakai tas hasil kreasi sampah plastik untuk sekolah, banyak teman-teman di lingkungan rumah yang tertarik dan menginginkan produk serupa," katanya.Respon dari lingkungan sekitar yang sangat bagus itu mendorong Lilik untuk lebih berkreasi dalam membuat produk-produk dari limbah plastik. Apalagi, kala itu masyarakat di sekelilingnya banyak yang memintanya untuk membuatkan kreasi produk dari sampah-sampah plastik."Hampir semua masyarakat yang ada di sekitar tempat tinggal saya membeli produk kreasi saya, baik tas maupun sandal," jelasnya.Bahan bakuSoal bahan baku, Lilik mengaku, selain dari sampah plastik yang dikumpulkannya, juga diperoleh dari masyarakat di sekitar rumah. Selain itu, bahan baku juga diperoleh dari para pemulung di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Jatibarang. "Untuk memperoleh limbah plastik dalam jumlah banyak, kini saya harus menebus ke Rp3.000/kg dari para pemulung di TPA," ungkapnya.Untuk proses lebih lanjut, sampah plastik tersebut harus dicuci terlebih dahulu sampai benar benar bersih. Dibutuhkan waktu yang panjang untuk proses pencucian ini, mulai dari merendam dengan detergen, mencuci ulang dengan sabun, menggosok dengan kain atau spon, dibilas dengan air bersih, dan menjemurnya hingga benar-benar bersih dan kering."Untuk plastik ini harus dipastikan tidak ada lagi kotoran yang menempel, baik dari dalam maupun luar kemasan untuk menjaga higienitas," terangnya.Ditambahkan, setelah kering plastik tersebut bisa dipisahkan sesuai warna dan jenisnya. Langkah ini diperlukan untuk memadukan warna dengan baik agar menghasilkan design yang bagus dengan paduan warna yang menarik dan tidak asal gabung. Sedangkan proses selanjutnya adalah pemotongan plastik, dan hasil potongan itu disambung dengan dijahit sampai sepanjang ukuran yang kita kehendaki. Pada proses menyambung ini, lebih baik menggunakan senar andaria ukuran 20-40 atau benang, dan jarum yang dipakai ukuran kecil 9-11. "Proses ini memang lumayan sulit, itu karena karakter plastik yang memang licin sehingga kita perlu hati-hati biar hasilnya bagus dan rajin," aku Lilik.Menurut Lilik, setelah plastik disambung dan digabungkan menjadi lembaran-lembaran, lalu dapat diukur dan dipotong sesuai pola yang dibuat. Dari situ lantas masuk ke proses yang paling sulit, yakni proses finishing. "Pada akhir ini, mulai dari pemasangan bisban, perekat sampai penggabungan bahan untuk membentuk sebuah hasil kreasi benar-benar dibutuhkan kesabaran, ketelatenan dan ketelitian, agar hasil yang didapat bisa bagus, rajin dan menarik," urainya.Untuk 1 kilogram sampah plastik, imbuh Lilik, setidaknya dapat dimanfaatkan untuk membuat 2 pieces produk. Namun, untuk membuat satu pieces produk saja dibutuhkan waktu menjahit sekitar 5 jam. "Dalam memproduksi kerajinan dari limbah plastik ini, masih ditangani oleh sendiri, dibantu oleh suami dan seorang karyawan saja," tandasnya. (alien) Sulit Merubah 'Mindset' Konsumen PEMASARAN menjadi kendala utama dalam produksi limbah plastik. Meski peluang pasar sangat terbuka lebar, namun merubah mindset masyarakat terhadap produk dari limbah bukan hal yang mudah. Begitu pula terkait cara masyarakat dalam menghargai produk berbahan sampah plastik."Masyarakat masih banyak yang berpikir, 'produk dari sampah kok mahal harganya'. Padahal, mereka tidak tahu bagaimana rumitnya membuat produk tersebut, meski bahan murahan tapi cara proses produksinya juga rumit," keluhnya. Untuk memasarkan produk kreasinya, Lilik kerapkali mengikuti bazar serta menggelar lapak di pasar-pasar tiban. Selain itu, untuk memperluas pasar juga dilakukan pemasaran secara online melalui website http://www.rumah-plastik.blogspot.com."Penjualan online ini mendapat respon yang lumayan bagus, dimana pesanan ada yang datang dari Jakarta, Bandung, Padang, Batam dan sejumlah daerah lainnya," jelasnya.Meski begitu, lanjutnya, keterbatasan tenaga produksi dan pemasaran, kini membuatnya hanya mampu membuat hasil kerajinan sesuai dengan order/pesanan saja. Namun, jumlah pesanan ini bersifat fluktuatif."Setiap bulan pasti ada yang memesan produk kami, khususnya pemesanan lewat online," tuturnya.Terkait dengan biaya produksi dan keuntungan yang diperoleh, Lilik mengatakan, dari harga jual yang dipatok, 30% diantaranya untuk pembelian bahan baku. Sedangkan sisanya merupakan ongkos untuk produksi."Dengan proses produksi yang rumit inilah maka saya berharap masyarakat bisa lebih menghargai produk yang dibuat, meski hanya dari limbah," harapnya. (alien) Bahan dan alat yang di butuhkan :1. Mesin jahit2. Plastik kemasan yang sudah bersih.3. Jarum Ukuran 9-11 dan 164. Benang nilon dan senar andaria ukuran 20-405. Perekat6. Bisban (dalam beberapa ukuran)7. Cutter8. Penggaris9. Gunting10. Aksesoris lainnya. Sajian Menu Rendah Kolesterol Berpadu Nuansa IndonesiaBANYAK diantara kit a yang sangat phobia dengan yg namanya kolesterol, sehingga kadang merepotkan sendiri. Mau makan ini takut, mau makan itu takut, mau makan yang di sana takut juga.Nah.... bagi Anda yang bingung mencari makanan sesuai dengan selera lidah kita dan rendah kolesterol? Tak ada salahnya juga jika mencicipi sensasi masakan tradisional Indonesia yang disajikan Selera Indonesia, di Jalan Sultan Agung Nomor 117 Semarang. Rumah makan yang berdiri sejak 2 tahun silam ini, sengaja dihadirkan untuk memanjakan lidah para penggila kuliner yang haus akan menu masakan tradisional bercitarasa Jawa pada khususnya. Selain itu, dengan perpaduan nuansa Jawa dalam desain ruangannya, Selera Indonesia menyajikan aneka menu yang tidak mengandung kolesterol.Pemilik RM Selera Indonesia, Safira Oktavia mengaku, idenya membuka rumah makan ini diawali dari hobinya kuliner. Dari satu kota ke kota lainnya, kuliner yang ditawarkan mayoritas sudah dipadukan dengan resep dari luar dan mengandung banyak kolesterol. "Dari situlah, saya bersama kakak dan adik saya terlintas ide untuk membuat rumah makan sendiri dengan menu-menu yang non kolesterol bercitarasa tradisional yang buka setiap hari mulai jam 09.00-21.00 WIB," katanya, kemarin.Menurut perempuan yang aktif di sejumlah organisasi kewanitaan ini, setidaknya ada 45 macam menu tradisional yang ditawarkan di rumah makannya. Menu-menu yang disajikan pun tidak dimasak sembarangan, melainkan dengan perpaduan aneka rempah-rempah asli Indonesia yang bakal menambah cita rasa tersendiri."Yang masak pun tidak sembarangan, ada 3 koki pilihan yang sengaja kami tunjuk untuk memasaknya," ujar wanita beranak 3 tersebut.Sebagai menu unggulan, lanjutnya, ada ayam besengek, orak-arik pedo, dan sayur lodeh. Begitu pun soal harga, sangat terjangkau mulai dari Rp3.000-Rp10.000 untuk satu porsi lauk, kecuali jenis ikan, ayam dan daging."Untuk model penyajiannya dilakukan secara prasmanan, dengan menu-menu yang ditata rapi di atas wajan dan kuali dari tanah liat," terangnya.Selain dari sisi ciri khas menu, keunikan lain yang ditampilkan dari Selera Indonesia yakni pada desain ruangan. Soal desain ini, berbentuk rumah tinggal yang dirancang sedemikian rupa dengan berbagai pernak-pernik kuno dan bernuansa Indonesia."Melalui desain ruangan yang ada, maka pelanggan akan dibawa pada suasana makan seperti halnya di rumah sendiri, dengan suasana yang nyaman diiringi alunan musik tradisional," jelasnya.Maka, tak heran jika rumah makan yang satu ini kerapkali menjadi jujukan para artis dan pejabat jika melakukan lawatan di Semarang. Sejumlah wisatawan mancanegara pun terkadang tak melewatkan untuk menikmati menu asli Indonesia ini."Untuk lebih mengembangkan tradisi kedaerahan, kami kini juga melengkapi rumah makan dengan butik dan cookies," tandasnya. (alien) | Dengan NafasMu | | aku dan TUHANKU | | Ungu | | | Syukur Alhamdullilah | | aku dan TUHANKU | | Ungu | |
| |